Tuhan, Pinjam KacamataMu (3)

Rangkaian dari tulisan sebelumnya, yang ini dan yang itu…
***
Dalam ranah kebahagiaan, sepanjang koridor hati nurani manusia, pada setiap kelahiran bayi pasti, yakin… membawa kebahagiaan. Meski itu bukan bayi kita sendiri, meskipun kita tidak mengenal siapa wanita yang tengah melahirkan di ruang sebelah di suatu rumah sakit, bahkan manakala sanak famili kita sendiri yang berada satu ruangan dengan kita sedang menderita paska operasi pengangkatan tumor. Ketika saat itu datang, suara “cenger” tangis si bayi menyapa gendang telinga kita, simpul senyum akan tersungging di bibir kita. Ada walau hanya setitik rasa bahagia di hati kita. Jangankan bayi dari wanita di ruang sebelah, telur ayam tetangga menetas pun, sepanjang kita mengikuti hati nurani, pasti akan menerima rasa positif di hati kita. Setiap kelahiran akan membawa rasa bahagia orang-orang di sekitarnya.
Kembali ke wanita di ruang sebelah, sekiranya proses kelahiran itu telah usai, apa yang bisa kita yakini dari wanita tadi? Rasa syukur, doa, dan harapan akan keberadaan si bayi sampai tumbuh kembangnya nantinya, itu yang ada.
Bagaimana halnya dengan hari kebahagiaan yang dipercayakanNya ke kita? Porsi syukur, doa, dan harapan pastinya tak pernah ketinggalan mengekor hari-hari itu.
***
Manakala sahabat terdekat kita pergi mendahului kita mengahadap Sang Rab karena penyakit lupus yang dideritanya, betapa rasa sedih itu menghantam hati. Lalu kita berdoa dan berharap untuk mendiang sahabat juga untuk yang ditinggalkan termasuk kita sendiri.
Bagaimana halnya apabila kepercayanNya akan hari sedih itu tiba pada gilirannya kita alami sendiri, entah itu sakit, bangkrut, diPHK, diamputasi, dll.? Doa dan harapan akan senantiasa bergaung memenuhi ruang gerak keseharian kita selanjutnya. Itu yang ada.
***
Seiring dengan dua hari yang berdatangan silih berganti sepanjang hidup kita, ada tiga kompenen yang salah satu komponennya menjadi satu variabel tersendiri dengan satu kuadran yang tidak pasti posisinya, bahkan pada umumnya lenyap tidak disertakan sama sekali. Kompenen-komponennya adalah Tuhan, kita, dan reaksi naluriah kita (syukur, doa dan harapan). Fenomenanya adalah ketika hari bahagia tiba, reaksinya pasti lengkap dan ketika hari sedih menghimpit, reaksinya sering hilang satu.
A: “Masa’ kesedihan pantas kita syukuri, seh?”
B: “Mengapa tidak?”
A: “Mengapa ente syukuri kesedihan, coba?”
B: “Bro… senang-susah itu bagian dari hidup. Kalo ane, diberi hidup itu berlimpah syukur. Insyaalloh diberi mati juga bisa ane syukuri karena berikutnya ane bisa hidup di alam yang “mendekat” denganNya, meski sangat mungkin ane nanti ngerasakan langsung “tamparan”Nya, pembersihan dariNya (?). Ketika ane mensyukuri diberi hidup, masak hanya sebagian isi hidup saja yang pantas ane syukuri? Lalu sebagian yang lain pantas tidak disyukuri, gituh?
***
Tapi memang berat dan sangat tidak mudah mengambil persepsi ini. Akan lebih mudah kiranya dengan mengambil hakikat harapan. Senang-susah, bahagia-sedih, senantiasa diikuti harapan. Kita pasti yakin dengan harapan-harapan kita, kita tahu sendiri dengan apa yang kita harapkan. Tuhan yang mahatahu, tanpa kita omongkan pun ya.. pasti tahu. Pertanyaannya, apakah saat hari-hari itu berdatangan, kita mau tahu harapan Tuhan?
Saya rasa dan yakin, ada saat-saat tertentu ketika kita pengen tahu harapanNya, baik di saat senang maupun susah, kita bisa sampaikan kepadaNya, “Tuhan, pinjam kacamataMu.”
*Untuk pengingat, lebih saya tujukan untuk pribadi dan keluarga. Semoga menjadi manfaat juga untuk yang lain.*
Popularity: 30% [?]





KACA RAUTANNNNNNN??!!!!!, ….. gak ada yang lebih kecil lagi mas ‘D’, …..
Kaca rautan mah dipake ngintipin rok cewe-cewe waktu es em pe dulu, …. He, … he, ….
Pernah sih pinjem ‘kacamata’-Nya , ….
Teteup buram euy, …. gak mampu ngeliat ‘makna sesungguhnya’ dari setiap peristiwa idup, …
Gak cocok buat aq kaleeeeee ……
Besok-besok jangan pinjem kacamata terus dunk (3 kali pula), …..
Kasihan Tuhan, di pinjemin terus,…..
Klo emang suka dg kacamata Tuhan, S E W A, …….. jangan gratisan aja, ….
Skali-skali Narzis pake punya sendiri juga boleh, ….
KACAMATA DHODOTES’, tapi bahan kacanya jangan dari kaca nako yaa, nanti buram, ….
atau, …. kaca spion DHODOTES’, …….hi, .. hi, … whatever deh
Sincerity brings sweetness to the water
mBakAn,
dipinjem sering-sering dan lama juga boleh, kok.
Emang saya suka dan alhamdulillah emang gratis je, mBak, coba aja pinjem…
Wew
… narziz emang bagian hidup sy, mBak. Blog bagian dari itu.. n tunggu ajah gilirannya sy bikin satu posting bertajuk ‘Meminjam Kaca Rautan mBakAn’.
*rasa sesendok garam terlarut tergantung volume wadah air pelarutnya*