Tuhan, Pinjam KacamataMu (2)

Id (willing), senantiasa, ‘harus’ dipenuhi. Saya pikir semua sepakat kalau pemenuhan Id merupakan kebutuhan dasar kita, sehingga sering disebut manusiawi, lumrah, wajar, apabila refleksi Id tampil ke muka pada hampir setiap aktivitas kehidupan. Setidaknya, dalam menulis inipun, apa yang tertuang di sini berasal dari sudut pandang saya, Id atas olah pemikiran saya untuk bisa diterima pembacanya. Setelah tertuang dalam rangkaian huruf dan kata, Anda kemudian membacanya, atau hanya sekedar menangkap selintas satu dari seratus kata yang ada. Satu saja, Anda telah menangkap bagian Id saya.
Sebagai manusia seutuhnya, ada akal, ada budi, olah pikir, olah rasa. Kalaupun satu dari seratus itu saja yang tertangkap mata, syukur-syukur kalau bisa menimbulkan kesan atau bahkan hanya lewat dalam alam pikir Anda, itupun tidak sempat hinggap, setidaknya ada reaksi pikir walau hanya sejenak. Apapun reaksi pikir sejenak Anda, terjadilah interaksi Id (cenderung memancing ego saat Anda tidak sependapat). Kata saya bertemu dengan kata spontan yang mungkin Anda munculkan, sendiri. Kalimat… alinea… bisa jadi sampai pada pemahaman. Sependapat, tidak setuju, menambah-mengurangkan, terolah, tercatat, terkesan, diskusi, setidaknya dapat menjadi bahan untuk obrolan-obrolan ringan di teras belakang rumah beserta anak-istri-suami. Semua itu terjadi lantaran ada interaksi Id, fluktuasi ego, bahkan reaksi super ego kita semua. Itu proses alamiah, saya rasa. Dan kalaupun terdapat interaksi-interaksi id, ego, dan super ego lain di luar sana… itulah dinamika dunia. Manusia selalu ada manusia lain. Aksi-reaksi hukumnya… terkemas dalam sebuah komunikasi, reaksi, apapun bentuknya, kapanpun munculnya.
Keberpihakan
Tidaklah bijak kiranya beranggapan sebuah aksi akan bisa berdiri sendiri selamanya, status quo, kemapanan satu pihak, sementara ada pihak lain yang bereaksi entah lambat ataupun cepat. Pembenaran ataupun sebaliknya, tidak menjamin kondisi tersebut akan selalu benar ataupun salah. Semua terletak pada timbul tenggelamnya generasi-generasi perubah, yang semuanya pasti akan lekat dengan apa yang kita sebut sebagai sejarah, yang juga akan selalu diwariskan pada generasi-generasi perubah berikutnya. Aksi dari Id masing-masing kita memungkinkan muncul ego dari yang lainnya dan sangat berpotensi memancing reaksi super ego dalam kapasitas yang bervariasi.
Dua itu dasarnya sekaligus itu muaranya. Namun tidak ada salahnya, mari kita mulai dari satu individu saja, sekecil apapun individu, pemegang hak atas id, ego, dan super ego itu, punya hak pula untuk memilih, memihak, dan utamanya, bagaimana prinsipnya… sekali lagi, kalau ada yang salah, mari dikoreksi bersama dalam interaksi pikir dan rasa.
***
Setelah Tuhan main pilihan, giliran kita-kita memaksimalkan hak pilih atas kepercayaanNya, memilih di antara kita untuk menerima anugerah hari-hari bahagia, pun sebaliknya. Perlu kita review bahwa karena kemahatahuanNya-lah pada hakikatnya Tuhan telah secara tepat memilih sesiapa pemikul kepercayaan atas dua macam hari-hari tersebut, siapapun pemikul kepercayaan itu, pastilah mampu karena mustahil Tuhan memberikan sesuatu yang tidak mampu diterima hamba-hambaNya. Sejalan dengan itu, kadar kebahagiaan dan kesedihan antarmanusia tidaklah sama.
- Dihari bahagia, kita dihadapkan pada dua pilihan,
- Makin bahagia setelah hari bahagia, atau
- Sebaliknya, berangsur tidak bahagia.
- Dihari tidak bahagia, pun dihadapkan pada dua pilihan,
- Makin tidak bahagia setelah hari tidak bahagia, atau
- Sebaliknya, berangsur bahagia.
Terkait review sebelumnya, kapasitasnya, teknisnya, dan rasanya hanyalah masing-masing kita yang bisa mengukurnya. Setidaknya, itulah prinsipnya (mari saling mendoakan).
“Kelompok besar berangkat dari individu.” …
gambar di ambil dari sini.
Popularity: 37% [?]





mmmmmmm, …. emang Tuhan pake kacamata yaa, n klo pake, emang begitu bentuk nya, … bukan kacamata Rayband, wayrer, oakley ………… ? – JUST KIDDING
btw. its allure article.
mBakAn,
ajah-ajah ada kidding-na si Embak, euy…
thanks eniweh, Mbak.