| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Tuhan, Pinjam KacamataMu (2)

web hosting indonesia

Id, Ego, Super Ego

Id (willing), senantiasa, ‘harus’ dipenuhi. Saya pikir semua sepakat kalau pemenuhan Id merupakan kebutuhan dasar kita, sehingga sering disebut manusiawi, lumrah, wajar, apabila refleksi Id tampil ke muka pada hampir setiap aktivitas kehidupan. Setidaknya, dalam menulis inipun, apa yang tertuang di sini berasal dari sudut pandang saya, Id atas olah pemikiran saya untuk bisa diterima pembacanya. Setelah tertuang dalam rangkaian huruf dan kata, Anda kemudian membacanya, atau hanya sekedar menangkap selintas satu dari seratus kata yang ada. Satu saja, Anda telah menangkap bagian Id saya.

Sebagai manusia seutuhnya, ada akal, ada budi, olah pikir, olah rasa. Kalaupun satu dari seratus itu saja yang tertangkap mata, syukur-syukur kalau bisa menimbulkan kesan atau bahkan hanya lewat dalam alam pikir Anda, itupun tidak sempat hinggap, setidaknya ada reaksi pikir walau hanya sejenak. Apapun reaksi pikir sejenak Anda, terjadilah interaksi Id (cenderung memancing ego saat Anda tidak sependapat). Kata saya bertemu dengan kata spontan yang mungkin Anda munculkan, sendiri. Kalimat… alinea… bisa jadi sampai pada pemahaman. Sependapat, tidak setuju, menambah-mengurangkan, terolah, tercatat, terkesan, diskusi, setidaknya dapat menjadi bahan untuk obrolan-obrolan ringan di teras belakang rumah beserta anak-istri-suami. Semua itu terjadi lantaran ada interaksi Id, fluktuasi ego, bahkan reaksi super ego kita semua. Itu proses alamiah, saya rasa. Dan kalaupun terdapat interaksi-interaksi id, ego, dan super ego lain di luar sana… itulah dinamika dunia. Manusia selalu ada manusia lain. Aksi-reaksi hukumnya… terkemas dalam sebuah komunikasi, reaksi, apapun bentuknya, kapanpun munculnya.

Keberpihakan

Tidaklah bijak kiranya beranggapan sebuah aksi akan bisa berdiri sendiri selamanya, status quo, kemapanan satu pihak, sementara ada pihak lain yang bereaksi entah lambat ataupun cepat. Pembenaran ataupun sebaliknya, tidak menjamin kondisi tersebut akan selalu benar ataupun salah. Semua terletak pada timbul tenggelamnya generasi-generasi perubah, yang semuanya pasti akan lekat dengan apa yang kita sebut sebagai sejarah, yang juga akan selalu diwariskan pada generasi-generasi perubah berikutnya. Aksi dari Id masing-masing kita memungkinkan muncul ego dari yang lainnya dan sangat berpotensi memancing reaksi super ego dalam kapasitas yang bervariasi.

Dua itu dasarnya sekaligus itu muaranya. Namun tidak ada salahnya, mari kita mulai dari satu individu saja, sekecil apapun individu, pemegang hak atas id, ego, dan super ego itu, punya hak pula untuk memilih, memihak, dan utamanya, bagaimana prinsipnya… sekali lagi, kalau ada yang salah, mari dikoreksi bersama dalam interaksi pikir dan rasa.

***

Setelah Tuhan main pilihan, giliran kita-kita memaksimalkan hak pilih atas kepercayaanNya, memilih di antara kita untuk menerima anugerah hari-hari bahagia, pun sebaliknya. Perlu kita review bahwa karena kemahatahuanNya-lah pada hakikatnya Tuhan telah secara tepat memilih sesiapa pemikul kepercayaan atas dua macam hari-hari tersebut, siapapun pemikul kepercayaan itu, pastilah mampu karena mustahil Tuhan memberikan sesuatu yang tidak mampu diterima hamba-hambaNya. Sejalan dengan itu, kadar kebahagiaan dan kesedihan antarmanusia tidaklah sama.

  • Dihari bahagia, kita dihadapkan pada dua pilihan,
  1. Makin bahagia setelah hari bahagia, atau
  2. Sebaliknya, berangsur tidak bahagia.
  • Dihari tidak bahagia, pun dihadapkan pada dua pilihan,
  1. Makin tidak bahagia setelah hari tidak bahagia, atau
  2. Sebaliknya, berangsur bahagia.

Terkait review sebelumnya, kapasitasnya, teknisnya, dan rasanya hanyalah masing-masing kita yang bisa mengukurnya. Setidaknya, itulah prinsipnya (mari saling mendoakan).

“Kelompok besar berangkat dari individu.” …

Ray_Ban_RX5121_2000

gambar di ambil dari sini.

Popularity: 37% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

    • ndr
    • October 20th, 2009

    mmmmmmm, …. emang Tuhan pake kacamata yaa, n klo pake, emang begitu bentuk nya, … bukan kacamata Rayband, wayrer, oakley ………… ? – JUST KIDDING

    btw. its allure article.

    mBakAn,
    :) ajah-ajah ada kidding-na si Embak, euy…
    thanks eniweh, Mbak.

  1. No trackbacks yet.

CommentLuv Enabled

Spam Protection by WP-SpamFree