| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Sanggar Cerita … Childhood

web hosting indonesia

What another inspiring one, masih lekat di ingatan… Hanna Pertiwi on Sanggar Cerita’s song of theme

Slamat berjumpa dengan sanggar cerita … dalam kisah lagu dan cerita .. la .. la .. la .. Mari kita dengarkan .. Mari kita nikmati .. Sampai jumpa lagiiii ..

Each time I look back to my own childhood *haiyyah*, saat itu pula ane inget dua lagunya Hanna Pertiwi. Satu lagi yang bertajuk Susu. Susu .. susu .. susu .. tiap pagi kita minum susuuu .. Khususnya Sanggar Cerita, ituh obat paling manjur bikin ane maem. Be Ma (Babe-Mama) tau betul soal ituh,  secara ane dulu mah cacingeun atuh. Senjata andalan selain ituh ya kombinasi antara kerkop n balonku ada lima, nyang entah apa masik ada sampai sekarang di seputaran barat Pasar Kembang THR Jogja. Karena tajuknya sanggar cerita ya yang mau dibahas lebih berat ke situh.

sc

Jadih, bagi nyang belon tau apa yang ane maksud dengan Sanggar Cerita, ituh adalah kumpulan kaset ane masa bocah, rajin dibeliin Be Ma ane dari sisa gajih bulanan Babe yang dirajut Ma seperak demi seperak dalam pengeluaran harian. Ya karena Be-Ma tau ane suka ndengerin kumpulan cerita “childish” dari kaset-kaset entuh buat supporting ane ngemah-ngemah asupan tubuh hariannya. Indak tau sekarang nasib kaset-kaset ituh, moga masik bisa berjaya di udara kalo satu saat pulang nanti ane cari n ketemu.

Sekarang-sekarang nie ane mikir dan udah berusaha nyari kenape indak banyak lagi kaset-kaset anak-anak model cerita gituh macem dulu kala. Menurut ane, kaset ato apapun bentuknya sekarang yang berlabel “audio only” untuk mengemas cerita-cerita ‘childish‘ justru memberikan dampak luar biasa bagi pengembangan moral anak secara postip, ketimbang sajian harian yang sangat-sangat lebih mudah diterima anak-anak saat ini, dari kartun, sinetron, bahkan sampai dengan reality show. Memang kembalinyah seh pada kontrol lingkungan anak-anak ybs., tapi namanya mudah tersaji ya mudah pula terendus, bahkan tercicipi, sesekali bahkan mungkin sering juga tersantap. Hal ini sering saya sebut sebagai satu sisi dilema dunia anak-anak. Secara, merekalah aset penerus generasi mendatang.

My beloved daughter is Nashya, 5.6 years old. Sejak saya simpulkan bahwa dia udah konek dalam komunikasi, sayapun “mencekok’i”-nya dengan satu komitmen dalam bertelevisi ria, bahkan untuk acara yang “berkoridor” acara anak. Komitmennya berupa semacam keharusan Nashya bertanya ke sesiapa yang disekitarnya, “Acaranya bagus indak buat Nashya? Boleh nonton?” Alhamdulillah menurut bundanya komitmen ituh terlaksana walau kadang ya yang di Jogja beberapa kali kecolongan karena tiada yang memonitor sajian Nashya kala-kala tertentu. Ituh PR kami.

Nah untuk “audio only”-nya menjadi semacam keharusan bagi kami, Be-Ma-nya, untuk rajin-rajin bercerita, khususnya menjelang tidur. Atau menyajikan kumpulan buku-buku cerita anak miliknya untuk kami bacakan, sesekali dibacanya sendiri sambil nelpun, unjuk pamer ke sayah. Begitulah.

Kesimpulannyah, terus terang dilema sajian harian yang sangat mudah terendus Nashya (anak-anak) saat ini begituh menjadi kekuatiran tersendiri, karena satu sisi solusi yang bisah kami haturkeun ke Shya *menjadi ketakutan pula* makin tidak berimbang dengan sajian harian dimaksud tadih.

Selamat menjaga anak-anak kita… semoga memberi hasil nyata berikutnyah. May God gives us great children around..

.:: the pic is taken from here ::.

Popularity: 100% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

    • ndr
    • October 22nd, 2009

    Setiap hal punya dua sisi,…..
    not too worry, ….
    SUKURI ajah, …

    mBakAn,
    hanya bisa sebatas usaha yang harus dimaksimalkan buat anak, mBak…

  1. semoga your beloved Nashya mendapatkan informasi yang sesuai dengannya, sebagai orang tua memang banyak PR pada diri kita..
    satu hal tentang Sanggar Cerita sudah lama tidak terdengar lagi sejak Indonesia mendapatkan serangan PS, XBOX dang sejenis..

    __ turut prihatin dengan perkembangan anak Indonesia saat ini __

    Gajah Pesing,
    Amin..makasih, Om. Mari kita semua saling mencerahkan dalam menyoal perkembangan anak. Terima kasih buat sesama blogger semua, kepada siapa saya bisa memetik banyak ilmu, pun soal anak. Perkembangan teknologi adalah perubahan yang bersamaan memberi dampak +/-, terlebih Indonesia menjadi pasar yang prospektip, hanya orang tua, keluarga yang bisa menfilternya.

    Makasih, Om Gajah.

    • mikha
    • June 24th, 2009

    sampai saat ini sajian informasi yang bersifat audio dan bacaan jauh terbukti lebih baik dari pada info melalui tv. karena anak lebih bisa berkonsentrasi….

    Mbak Mikha,
    Secara empiris mungkin begituh, Mbak, tapi entah kalau memang ada penelitian yang menyajikan angka-angka komparatif yang lebih detil barangkali bisa lebih meyakinkan. Sisi lain minusnya tipi, dari acara gosip, misalnya, walaupun konsumsi bagi orang dewasa, tapi indak jarang anak-anak yang tahu juga gosip selebritis siapa yang santer dalam pekan-pekan tertentu. Nah, acara sedemikian nih kalau di akumulasi dalam seminggu berapa jam tayang coba, dari semua stasiun tipi nyang ada. Emang kite-kite orang tua kudu lebih protektif ke anak terhadap media tipi, khususnya.

  1. No trackbacks yet.

CommentLuv Enabled

Spam Protection by WP-SpamFree