| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Pembelajaran Dhoni Ketika Nashya Belajar Berdiri Kala Itu

web hosting indonesia

Dhoni sering melihat masa kecil untuk pembelajaran diri, peningkatan kualitas pribadi. Sayangnya Dhoni kagak inget saat ia belajar berdiri. Yang pernah diikutinya adalah proses belajar berdirinya Nashya, putri Dhoni yang senantiasa membuat Dhoni ingin belajar dari waktu ke waktu. Maka dari itu, posting ini bertajuk demikian tadi. Ketika Nashya belajar berdiri, Dhoni yakin diawali dengan keinginannya setelah apa yang ia lihat dari orang-orang di sekitarnya berdiri bahkan berlari, sementara Nashya sendiri hanya bisa ngesot dan merangkak.

Keinginan, dimiliki setiap manusia yang meminta perhargaan dari manusia lain dalam apresiasinya. Paling tidak, membahagiakan apabila mengetahui kita masih memiliki keinginan karena kita masih bisa merasakan sebagai bagian dari mahluk yang disebut manusia. Dan akan lebih membahagiakan lagi saat orang lain menghargai keinginan kita meskipun orang lain tidak memiliki keinginan yang selalu sama, karena penghargaan itu akan kita rasakan bahwa orang lain pun menghargai sisi kemanusiaan kita.

belajar-berdiri

Didukung dengan hasrat naluriahnya setelah perkembangan biologis anatominya semakin kuat, semacam sinyal sensorik mengantar pesan ke otaknya bahwa kakinya mulai sanggup menopang berat badannya, tangannya siap membantu proses selanjutnya. Motorik menggerakkan kedua tangan dan kakinya, mulailah Nashya mencari-cari pegangan untuk rambatan. Dhoni sering terdiam kala itu, mengamati proses tersebut tahap-demi tahap, bahkan ketika efek destruktif mahluk kecil itu terjadi beberapa kali, Dhoni masih sering terdiam, berusaha untuk tidak memberi kata “jangan”  atau “bukan” ke Nashya. Masih teringat dalam lembar memorinya, setiap efek destruktif terjadi Nashya senantiasa menerima kata-kata “yak, gak papa, ayo belajar lagi” atau “udah pinter, gak papa, ayo belajar lagi”. Seolah Nashya tahu maksud komunikasi itu, ia pun tersenyum. Dengan demikian efek destruktif hanya menjadi kekuatiran hampa bagi Dhoni karena rambatan Nashya tetap diamatinya, tidak dibiarkan rambatan sendiri tanpa diamati dan diarahkan. Dan yang terpenting,  Nashya merasa ditemani dan dijaga. Destruksi yang terjadi, seperti  setrikaan baju berantakan saat keranjang setrikaan terbalik ketika dijadikannya topangan saat Nashya berusaha berdiri, layar HP pecah saat Nashya berhasil berdiri untuk rambatan dengan berpegangan meja tamu dan didekatnya tergeletak HP kesayangan, diraihnya, lalu dilemparnya ke teras, hal-hal semacam itu hanya akan terbenam dengan kegembiraan Nashya rambatan berulang-ulang, melihat semangatnya, melihat fightnya dari kondisi yang tadinya tidak mungkin bagi Nashya menjadi sesuatu yang harus diperjuangkannya, sampai nantinya hasilnya sangat di luar dugaan Nashya sendiri dan saat itu Dhoni merasa berbahagia sekali.

Kata jangan atau bukan atau menyalahkan ibarat bendungan, tanpa saluran-saluran pemecah aliran, kala banjir keinginan peningkatan kualitas diri mengalir deras. Efektivitasnya adalah melemahkan keinginan dan akan fatal akibatnya, bisa berujung “hanya” pada ketakutan, merasa senantiasa disalahkan, parahnya akan memupuk jiwa berontak. Saluran-saluran pemecah aliran perlu dibuat sebelum mencapai bendungan, karena dengan itu banjir tetap dialirkan, arus terbagi, efek destruktif lebih kecil bahkan tiada. Kalau hanya bendungan, sementara banjir keinginan tetap datang, sampai kapan bendungan akan kuat bertahan?

Lalu saat Nashya terjatuh pun Dhoni tidak langsung bereaksi baik lisan maupun aksi untuk menolongnya. Dia akan melihat terlebih dahulu kira-kira seberapa parahkah jatuhnya. Dia tidak ingin Nashya menangis karena kaget dengan lisannya seperti “Innalillah…”, “Aduh..”, dll., dia hanya akan membatinnya, lebih baik Nashya menangis karena jatuhnya dan bukan karena kagetnya. Dhoni pun tidak akan langsung menolongnya manakala jatuhnya Nashya sekiranya tidak terlalu parah, dia hanya akan bilang “gak papa, berdiri lagi, haapp!” atau “sip, ayo berdiri sendiri”.

Dia ingin anaknya mengerti bahwa proses belajar memiliki konsekuensi, bahkan membuat sakit, tapi ia harus bangkit lagi dengan tidak bergantung pada orang lain untuk menuju hasil yang terbaik.

inserted link :
updated PCMAV 2.0 Build 3 + clamAVnewest go get it!

inserted link :
CAMPAIGN “BE WISE ON facebook Indonesia go there…

inserted link :
campaign : TNI AU milik kita go there or you may stay here..

Popularity: 6% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

    • dee
    • May 3rd, 2009

    gak apa-apa pak..mumpung waktu itu belum ada BB..masih Hp yang murah kan…berkorban demi anak.

    dee,
    yak..demi miara fight n morilnya gak papa ituh..

  1. No trackbacks yet.

CommentLuv Enabled

Spam Protection by WP-SpamFree