| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Pejuang dan Ibu Pejuang

web hosting indonesia

- Dari Bandung menuju Jogja, di kereta Mutiara Selatan ± 5 tahun lalu, selepas sholat Isya, bangku di depanku kosong. Sontak seorang lelaki paruh baya duduk di situ, mengulurkan tangan mengajak bersalaman. -

Assalamualaikum, saya Sunyoto.

Waalaikumsalam, Pak. Dhoni.

Surabaya?

Jogja.

- Kami kemudian saling bertukar kata dan cerita.

Dalam keramahannya beberapa waktu silap berikutnya, beliau mengisahkan perjalanan hidupnya, dari salah satu sudut kampung di Surabaya kala kanak-kanaknya sampai remaja, hingga saat itu berdomisili di Bandung. -

Bapak saya dulu berdagang dan mengelola koperasi bahan pokok, cukup besar. Beliau pekerja keras. Kehidupan kami baik, serba cukup. Sampai satu saat, bapak mengalami kerugian yang amat sangat dan menanggung beban anggota koperasi lainnya karena ditipu orang dalam memutarkan beras. Sejak saat itu bapak memilih menjauhi duniawi, hidup seadanya, makan dari apa yang ditanam saja.

- Pak Nyoto mengawali kisah pribadinya. -

Kami enam bersaudara, saya anak ke empat. Waktu itu masih STM kelas satu. Sekolah kami, anak-anak, kacau. Saat itu saya pribadi tidak bisa tidak menyalahkan bapak, tapi ya begitulah bapak.

Di mata saya, sekolah lebih tinggi tidaklah mungkin. Bertahan di Surabaya membuat saya malu dengan kawan-kawan lain. Saya pun memutuskan minggat.

Berbekal permintaan maaf dan permohonan restu lewat surat yang saya tulis dan letakkan di atas meja tamu, bermodal sepasang ayam milik nenek yang saya curi kemudian saya jual, saya minggat entah ke mana, ikut kereta. Saya turun di stasiun Bandung.

Dua malam saya tidur di stasiun. Uang yang semula tigabelas ribu hasil jual ayam menipis, saya harus kerja untuk makan, tapi saya terlalu malu untuk minta-minta. Sampai satu waktu seorang tua mendatangi saya, entah siapa, menggandeng tangan saya, mengantarkan saya ke satu sudut stasiun, dekat tempat sampah besar. Orang tua itu menunjuk beberapa orang dewasa yang sedang berkegiatan di tempat sampah itu, di dekatnya ada mobil usang bak terbuka.

Bantulah mereka,

kemudian orang tua itu pergi.

Saya pun mendekat ke sana, berbicara kepada yang paling tua, minta ijin untuk membantu sekedar mencari imbalan makan siang. Saya pun diperbolehkan, bersama-sama kami mencari rongsokan sampah logam.

Sambil bekerja,

Namamu?

Sunyoto.

Tinggal di mana?

Saya orang Surabaya, dua hari lalu minggat dari rumah karena tidak bisa lagi sekolah. Bapak saya bangkrut. Saya malu dengan teman-teman di Surabaya, saya juga tidak ingin merepotkan orang tua karena mengurus saya. Dua hari ini, saya tinggal di stasiun.

…..

Kamu boleh tinggal dengan saya, kamu bantu saya menggosok wajan dan jagain anak saya, kamu bisa makan di rumah saya.

Saya gembira sekali. Itulah tugas saya, menggosok pantat wajan setelah selesai dibentuk dan di waktu tertentu menjaga anak Pak Amin, anak bos saya, yang baru berumur 4 tahun.

***

4 tahun berlalu saya habiskan dengan menggosok pantat wajan dan sesekali mematri kompor di bengkel sekaligus rumah Pak Amin. Mereka sekeluarga sangat baik, selain makan tidak saya kuatirkan lagi, seminggu sekali Pak Amin memberi saya uang secukupnya.

Ini uang untuk kamu belanjakan keperluanmu. Saya harap kamu masih bisa menabung dari situ.

Demikian setiap minggu kata-kata Pak Amin mengiringi pemberiannya.

Tak jarang dalam selang beberapa bulan tertentu Pak Amin selalu menanyakan mengapa saya tidak pulang-pulang menjenguk orang tua. Benar. Di usia 19 tahun itu, setelah hampir 5 tahun saya minggat dari rumah, saya hanya berkirim surat tanpa alamat balasan yang mengabarkan berita baik saya, bekerja di keluarga pengrajin kompor dan perangkat dapur lainnya di satu kota di Jawa, dan memiliki sedikit tabungan untuk keperluan harian saya.

Saya selalu bersurat, Pak, mengabarkan kabar baik saya. Dan saya belum berani pulang karena tidak mau merepotkan bapak-ibu. Biarlah saya merantau saja, mengejar nasib baik saya dan mudah-mudahan bisa membantu orang tua, satu waktu kelak. Dan biarlah saat ini hanya doa saya untuk mereka, yang ada di antara keluarga saya.

Demikian jawaban saya terhadap pertanyaan Pak Amin tadi.

Dua tahun berikutnya, setelah saya rasa cukup tabungan dan anak Pak Amin juga kian bertambah usia, saya pertimbangkan, dan saya beranikan diri berbicara kepada Pak Amin.

Bapak, sudah sekian lama Bapak membantu kehidupan saya. Sudah sekian banyak pula ilmu yang saya peroleh. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih saya, saya mau minta ijin, Pak.

Bagaimana, Nak?

Mohon maaf kiranya, saya ingin mandiri, Pak. Saya ingin mencoba membuka usaha seperti Bapak. Uang yang selama ini Bapak berikan, sebagian saya tabung. Itu akan saya jadikan modal.

Pak Amin terdiam sejenak. Perasaan saya serba tidak enak karena satu hal saya tidak bermaksud tidak berterima kasih dengan permohonan itu, saya tidak bermaksud habis manis sepah dibuang kepada Pak Amin, tapi saya benar-benar ingin mandiri.

Nak Nyoto, ketahuilah. Sedari awal bapak lihat itikad baik dan kesungguhanmu. Sejak itu pula bapak ingin lihat pada akhirnya kamu mandiri. Itulah mengapa bapak sisihkan sebagian rejeki untuk bisa kamu tabung. Dan inilah buktinya. Bapak bangga dan mendukungmu. Satu catatan, Nak. Manakala kamu mengalami kesulitan usaha nantinya, jangan sungkan bicarakan dengan bapak.

Sungguh di luar dugaan kekuatiran saya, ketakutan saya.

Singkat kata, saya bisa mandiri di Bandung. Itu semua tidak mudah, Mas Dhoni. Berhasil, bangkrut, berhasil lagi, dan bangkrut lagi, datang silih berganti. Dan satu waktu di lembah kebangkrutan saya, di tengah frustasi, satu sore saya main ke stasiun, ke tempat semula saya menginjakkan kaki di Bandung, di tempat di mana saya belanjakan dua malam saya dengan bekal uang penjualan ayam-ayam curian milik nenek saya, ke tempat sampah ‘awal’ kehidupan saya di Bandung. Saya terduduk di depan tempat pembuangan sampah besar yang dulu saya gauli. Dalam lamunan saya, muncul ingatan orang tua yang mengajak saya ke tempat sampah ini, menyuruh saya membantu Pak Amin, waktu itu. Tapi dalam lamunan itu, orang tua itu berkata,

Pulanglah, temui ibumu, mohon maaf, berterima kasih, dan mintalah restu.

Saya benar-benar terhenyak, Mas Dhoni. Rasanya seperti Palu godam yang terhantamkan di dada saya. Selama bertahun-tahun saya tidak menengok orang tua, tidak pernah tahu karena tidak pernah minta kabar. Tidak memberi alamat ke mana mereka bisa berkirim kabar. Dalam suratpun, saya tidak pernah minta maaf, apalagi berterima kasih. Saya hanya mohon restu. Egois.

Sore itu juga saya membeli tiket ke Surabaya, bis waktu itu karena lebih dulu berangkat daripada jam keberangkatan kereta.

Ternyata Bapak saya sudah tiada tiga tahun sebelumnya. Saya merasa sangat berdosa tidak sempat meminta maaf dan berterima kasih ke Bapak. Ibu, alhamdulillah masih sehat, meski semakin kelihatan tua dan penuh beban kerinduan. Saya bersimpuh mencium kakinya, memohon maaf atas kesalahan besar saya meninggalkan keluarga, membuat cemas, tidak meninggalkan alamat tinggal, sampai-sampai keluarga tidak tahu harus bagaimana memberi kabar tentang tiadanya Bapak, berterima kasih karena tanpa saya minta pun saya yakin doa Ibu-Bapak mengiringi perjalanan saya, karena dibesarkan meski saya bengal dan minggat tetap menerima saya kembali dengan senyum peluk hangat penuh kerinduan. Akhirnya sayapun memohon doa restunya atas kehidupan saya di dunia.

***

Sejak saat itu, Mas Dhoni, hampir setiap bulan saya pulang ke Surabaya, seperti sekarang ini. Memohon maaf, berterima kasih, serta memohon restu, bersimpuh mendoakan Ibu, juga almarhum bapak saya.

Saya yakin juga, berkat doa restu Ibu pula usaha saya lancar, membawa manfaat untuk saya dan orang-orang yang bekerja di bengkel saya. Kehidupan saya membaik sampai sekarang ini.

***

- Bagi saya, malam di kereta itu sangat memberi makna. Untuk semua Ibu, selamat Hati Ibu.

Semoga memberi manfaat untuk saya pribadi dan pembaca semua. -

.:: catatan ::.

.:: cerita itu benar adanya, namun mohon maaf untuk nama saya ganti. ::.

Lalu teruntuk Ibu Pertiwi…

*saya suka cara pandang pengupload klip ini*

Popularity: 20% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.

CommentLuv Enabled

Spam Protection by WP-SpamFree