| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Pacak Baris, Cancut Taliwondo, Sumbut, Nyembadani Kamardikan lan 2010 (Kerja Keras Adalah Energi Kita? Tidak Sesederhana Itu)

web hosting indonesia

Arti dari judul di atas kurang lebih, siap sedia untuk berusaha (lebih) keras, konsekuen dan berintegritas tinggi terhadap apa yang telah diterima sebagai manusia yang terlahir di alam merdeka, pun dalam menghadapi dinamika 2010 yang sudah menantang di depan mata. Kalau melihat atau mendengar kata-kata tersebut, sebagian dari kita akan jengah, letih, bahkan muak. Kata-kata tersebut tidak jauh dari kategori slogan, jargon, ataupun sekelas dengan iklan minyak goreng maupun kecap tak bermerek. Namun demikian, biar saja, akan saya tulis sekali lagi, dengan huruf kapital : SIAP SEDIA UNTUK BERUSAHA LEBIH KERAS, KONSEKUEN DAN BERINTEGRITAS TINGGI TERHADAP APA YANG TELAH DITERIMA SEBAGAI MANUSIA YANG TERLAHIR DI ALAM MERDEKA, PUN DALAM MENGHADAPI DINAMIKA 2010 YANG SUDAH MENANTANG DI DEPAN MATA.

Kerja Keras Adalah Energi Kita.

Judul tadi, harus diakui, relevan bagi manusia secara pribadi, maupun komunitas dalam ikatan keluarga, sosial, maupun yang sama-sama merasa berjuang dalam organisasi bentuk apapun. Itu adalah strategi yang mengiringi visi dan misi. Meski demikian, semua itu butuh energi.

Rentetan pertanyaannya adalah, apa yang terjadi manakala tiada energi/ terbatas energi? Apakah artinya ketika energi mendapat asupan lebih, tetapi pacak baris, cancut taliwondo, sumbut nyembadani tetap tidak bisa diterapkan dalam melaksanakan misi menuju visi yang disepakati?

Sehingga menjadi : Kerja Keras Adalah Energi Kita?

Benar, bukan soal judul di atas yang ingin saya ulas di sini, bukan pula soal visi-misi, kualitas diri maupun organisasi.. tidak.. tidak. Sudah sedemikian banyak ulasan-ulasan normatif tentang itu semua di luar sana. Saya menyoal tentang question quotation-nya dan saya ingin berilustrasi dengan itu. Sebelum menyoal energi, mari menyoal iliustrasi ini, sehingga bisa memberikan sudut pandang tertentu tentang korelasi kerja keras dan energi itu sendiri, yang tidak sesimple “Kerja Keras Adalah Energi Kita” itu.

Sebelumnya, ada satu jawaban dari pertanyaan itu dalam satu term : tidak sehat. Boleh, monggo saja diterjemahkan dalam variasi kata osteoporosis, cacingan, gizi buruk, hydrocephalus, panuan, canténgên, kutil wal mata ikan, dll. Dan kalo kondisi kronis tertentu, term tidak sehat itu mendekati banyak kategori gila yang sering dimunculkan Andrea Hirata dalam novel-novelnya. Kronis sekali? 100% Gila.

Tidak jauh-jauh memang, ilustrasi itu nampak jelas di depan mata, sehari-hari sering kita rasakan, bahkan menjadi bagian terdekat dari kita. Saya ingin mengulang kembali ilustrasi tentang tubuh kita, setelah sebelumnya saya ilustrasikan dalam cerita kaki dan kepala dan salah satu artikel yang diawali nyanyian liar jalak uren. Seperti pepatah latin, Men Sana In Corpore Sano, a healthy mind in a healthy body, jiwa (moril) yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat. Point ilustrasi ini lebih menyoroti dua hal, yaitu metabolisme tubuh dan kerja syaraf sensorik-motorik.

Metabolisme Tak Sehat

Salah satu indikasi tubuh yang sehat adalah metabolisme tubuh, distribusi sumber energi, sirkulasi darah, reaksi kimia tubuh optimal, dll. Ketika itu semua terganggu, kepala pusing, mata berkunang-kunang, perut mual, keringat dingin, dll. Tubuh sakit.

Pada kondisi yang sehat, setiap makanan maupun minuman yang dikonsumsi, mengalami tahap-tahap proses karena kerja organ-organ digesti tubuh, mulai dari pengunyahan mulut, peran lidah, peristaltik lambung serta peran getah lambung (?), sampai pada penyerapan di usus dan distribusi ke seluruh tubuh oleh darah. Selengkapnya soal kerja organ-organ digesti silakan meluncur ke sini atau ke situ.

Manakala metabolisme tidak sehat, distribusi sari energi terganggu, bahkan kronis akut, yang terjadi (awam) bisa jadi seperti…

etET, The Extra Terrestrial. Hiiiii… jempol kaki mengecil, telapak kaki menciut belakang melebar bagian depan, lutut lemas, perut membuncit, jemari tangan dan leher memanjang, kepala membesar. Postur acakadul, tidak  proporsional, fungsi alat tubuh tidak maksimal dan jauh dari terminologi sistemik. Tubuh lemas lunglai tidak bergairah, semangat hancur, moril amburadul. Ya.. ‘hanya’ diawali dengan metabolisme tidak sehat.

Kalau sudah begitu, bagaimana kepala bisa berfungsi sebagai kepala, otak bisa berpikir layaknya kerja otak, leher bisa sesehat leher sehat, tenggorokan bisa bekerja dengan baik, tangan berfungsi sebagai tangan maksimal, kaki berfungsi kaki optimal,  berjalan, berlari, menendang, jongkok, dll.? Simpelnya lagi, bagaimana bisa terus bernyanyi riang manakala diare datang menyerang? Muaranya, bagaimana bisa pacak baris, cancut taliwondo, sumbut nyembadani kamardikan lan 2010 manakala tubuh sakit – moril terhimpit?

Distribusi ’sari energi’ yang tidak tepat jumlah dan sasaran, ancaman serius terhadap profesionalisme. Terlebih manakala hal itu  dibenturkan pada kebesaran arti dari kesetiaan dan pengabdian.

Syaraf Terganggu Menuju Gila Betul

Sedikit saja ilustrasi soal ini. Ketika perut lapar, mulut akan bilang, “Aku lapar.”, tangan sedikit menekan perut, mencari ganjalan. Ketika kuku jempol lepas terantuk batu, sekeras-kerasnya mulut, “Adduuhhh!!!”, dahi mengernyit, air mata menitik. Reaksi-reaksi motorik itu karena rentetan perintah-perintah dari otak (kepala) setelah sebelumnya menerima pesan-pesan sensorik dari para penderita (perut lapar, kuku lepas, dll.).

Manakala dalam kondisi tersebut, pesan-pesan sensorik tidak dapat diterima otak. Kemudian otak tidak meneruskannya menjadi perintah-perintah motorik, tubuh tidak sehat, sakit, mungkin parah. Manakala kelingking kaki  dipukul palu (kalau saja pakai bius mati rasa), kaki tidak meregang kencang dan mulut tidak berteriak mengaduh sejadi-jadinya, otak (kepala) tidak merespon, syaraf parah. Sistemik tubuh seperti itu, kelingking hancur lebur menderita sementara kepala diam saja tanpa respon, tidak sehat, 100% indikasi gila.

Haruskah hukum alam selalu kita terima, dalam hal ini semakin tua usia manusia, maka pendengaran dan penglihatannya semakin berkurang?

Lebih kebangetan lagi manakala di usia muda, seorang manusia sudah tidak bisa melihat dan mendengar dengan ’sempurna’.

.:: terilham dari ujian hidup seorang sahabat cilik yang sakit serta beberapa tulisan di facebook ::.

.:: comot gambat dari link ini ::.

Kutil wal mata ikan.. hilang dan sembuh manakala dicabut seakar-akarnya.

Popularity: 31% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.

CommentLuv Enabled

Spam Protection by WP-SpamFree