| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Mengapa Organisasi Sulit Maju?

web hosting indonesia

Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu persepsi yang sama terhadap beberapa pertanyaan yang mendahuluinya. Pertanyaan-pertanyaan pendahulu tersebut, yaitu :

Apa itu organisasi?

Erat berkaitan dengan willing, dari mulai individu, keluarga, ikatan sosial dari mulai level sekecil apapun sampai ke level yang sebesar apapun juga, terumuslah tujuan, sasaran, target. Pencapaian tujuan yang terwadahi dan sistemik itulah yang disebut gerak organisasi. Wadah pencapaian tujuan beserta sistem yang diciptakan didalamnya, itulah organisasi. Seorang individu saja dapat menyusun tahapan-tahapan pencapaian tujuannya, itulah kemampuan mengorganisir.

Mengapa organisasi dijadikan titik berat ulasan?

Karena manusia senantiasa lekat di dalamnya, menjadi bagian dari pencapaian tujuan, apapun itu. Setiap manusia dikarunia willing, maka dapat dipastikan pasti memiliki tujuan dalam kehidupannya. Sadar ataupun tidak disadari, manakala manusia, baik itu individu, terlebih sekumpulan individu dalam setiap ikatan sosial,  menetapkan tujuannya, sejak saat itulah manusia menjadi manager, merencanakan, mengorganisir tahapan-tahapan langkahnya guna mencapai tujuannya, beraksi melaksanakan kegiatan sesuai rencana dan pengorganisasian, sambil melaksanakan pengamatan terhadap hal-hal yang memungkinkan koreksi dan evaluasi kemudian. Ranah manajemen sering memilah tahapan-tahapan tersebut ke dalam 4 bagian secara umum yang dikenal dengan POAC, Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian langkah), Actuating (pelaksanaan kerja), Controlling (pengawasan dan evaluasi).

Apa saja ukuran kemajuan sebuah organisasi?

Setelah mencermati  beberapa literature, saya simpulkan bahwa komponen utama organisasi adalah leadership dan individuals around the leader. Pada satu kondisi optimal, dapat ditemukan parameter keberhasilan manjemen organisasi melalui kolaborasi dari great leadership dan effective individuals, dimana dalam proses kerja organisasi, kedua komponen utama tersebut senantiasa mensejajarkan focus pada langkah/ tindakan dalam pencapaian tujuan. Ukuran kemajuan organisasi itu sendiri terletak pada dinamika kolaborasi antara kedua komponen utama tersebut, di mana dinamika tersebut memunculkan pointer-pointer yang wajib disikapi dengan cerdas. Kecerdasan dalam menyikapi pointer-pointer itulah kunci kemajuan sebuah organisasi.

Kita memang butuh kerja keras karena kerja keras adalah energi kita. Tapi tanpa kecerdasan, dengan kerja keras kita hanya akan memburuh. Tidak cukup hanya dengan penekanan keja keras itu.

isi-uraian-jabatan-12.:: gambar comot ::.

Paul Krass, seorang praktisi R&D, memilah pointer-pointer tersebut ke dalam 10 elemen penting untuk mencapai kemajuan organisasi, yaitu :

1. Believing In People Is Vital To Organizational Strategy. Keberhasilan pelaksanaan strategi organisasi tidak sekedar tergantung pada kualitas dan efetivitas para pelaksana, tetapi itu semua lebih tergantung pada bagaimana leader menaruh kepercayaan pada pelaksana-pelaksananya.

2. You Get What You INSPECT, Not What You EXPECT. Hendaknya tidak perlu beranggapan bahwa terdapat satu masa atau bahkan mungkin selalu bahwa di dalam organisasi terdapat persinggungan garis harapan kuantitatif dan realitas actual result dari kinerja organisasi. Dengan begitu, baik leader maupun individuals pelaksana akan senantiasa butuh usaha untuk menemukan kekurangan untuk dievaluasi dan diperbaiki.

3. Trust, Accountability and Disciplined Reporting. Membangun karakter atau budaya positif dalam sebuah organisasi bergantung pada ada tidaknya kepercayaan, akuntabilitas, dan sistem pelaporan dinamika kinerja organisasi yang riil dan teratur (disiplin). Untuk mencapainya, maka organisasi wajib bekerja sebagai satuan teamwork yang solid atau dengan kata lain, hanya dengan budaya/ karakter organisasi positif tersebut, organisasi itu sendiri akan eksis sebagai sebuah kesatuan teamwork yang solid. Dan perlu digarisbawahi bahwa akuntabilitas pasti melekat dengan pada sebuah teamwork yang efektif. Sebaliknya, mustahil sebuah teamwork, organisasi, dapat dikategorikan efektif tanpa adanya akuntabilitas terukur.

4. Leadership Must Mediate The Inherent 30/70 Imbalances. Umumnya dalam sebuah oganisasi, 30% SDM adalah ‘pembangkang’, anti status quo, sisanya pro kemapanan. Sayangnya, yang 70% ini sulit memahami alam pikir inovatif yang 30%. Parahnya, eksistensi yang 30% tidak dirasakan, kalaupun dirasakan ada, tidak dieksiskan. Bottom line, kalau sosok pemimpin tidak dapat menjembatani ketidakseimbangan ini, maka sangat disayangkan, yang 30% tidak akan terberdayakan oleh organisasi karena tersingkir oleh dominasi pro kemapanan.

5. Circumvent Unintentional Sabotage Of Communication. Komunikasi tertulis itu maha penting. Seseorang menterjemahkan pesan/ bahan komunikasi dengan interpretasi yang sama. Hanya dengan komunikasi tertulis, ‘ketidaksengajaan sabotase komunikasi’ dapat dihindari dan proses berikutnya akan senantiasa dapat dipertanggungjawabkan.

(bersambung)

Kerja keras adalah energi kita? Tidak hanya itu, bukan satu-satunya sumber energi, lebih butuh kecerdasan menyeluruh.

Popularity: 34% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.

CommentLuv Enabled

Spam Protection by WP-SpamFree