From VSAT to Aglaonema, Sastro Keling’s Perspective

Siang ituh Sastro Keling ngisis di teras musholla kantor kecamatan. Ngisis ituh ya bisa miring-mlumah-mengkurep di plesteran teras yang adhem. Biasanya ritual ituh dilakukan Sastro Keling, bisa di teras mana ajah, ya musholla, kantor kecamatan, gudang tembako milik seorang juragan yang lagi pailit, atawa di sisi timur WC umum kecamatan, di sebelah kandang sapi milik ajudan Pak Camat. Yang jelas, hal itu dilakukan saat radiasi matahari komplit dengan ultraviolet-nya, panas ngenthang-ngenthang, yang dengan lega melenggang setelah mendapat beberapa celah tanpa filtering dari ticketing counter security *kek masuk subway di pilem-pilem Korea ituh* di bawah lapis stratosphere, menembus troposphere n menjilati kulit Sastro Keling. Saat itulah Sastro Keling sering memutuskan untuk melakukan ritual siang yang ia sebut ngisis supaya bisa isis karena di isis-isis phiiieeew… phiiiieewww… angin indak jelas.
isiisss..temen..eman isisss’e..
.:: gambar nyomot da sini::.
###
Tak jauh dari tempat Sastro ngisis, sekitar 50 meter darinya, tampak dua orang sedang ngutak-utik antena parabola di samping kantor pos sebelah kantor kecamatan. Hanya saja bagian transponder-nya bukan seperti parabola untuk njaring gelombang radio/ elektromagnetiknya acara tipi. Tertarik dengan antena ituh, Sastro keling beranjak mendekat.
“VSAT,” jawab Suratmin, salah satu pemasangnya. “Indak tahu juga,” lanjutnya, “yang jelas untuk mendukung pelaporan operasional kantor pos ke pusat, mungkin semacam kompilasi pelaporan dari kantor pos-kantor pos yang ada. Tahun kemaren kami memasang sekitar 300an antena. Secara teknis, VSAT ini mendukung jaringan online dengan sistem LAN ke sebuah server di Jakarta, pusat. Koneksinya tentu saja menggunakan jasa satelit.”
Sastro mengangguk-angguk saja indak paham, tapi lumayan baginya mendapatkan informasi asing seperti ituh. Ia ndeprok begitu saja di bawah pohon pisang, tetap saja ngamatin kesibukan Suratmin dan rekannya, meski tak paham benar apa yang mereka kerjakan. Tiga batang rokok tembakau linteng dhewe udah lewat di hisapnya, itu batang ke empat, ketika Suratmin dan partnernya memutuskan istirahat sejenak. Mereka mendekati Sastro, bergabung ndeprok dan ngerokok. Masing-masing marlboro putih dan jarum black.
“Biasa masng beginian ya, Pak Ratmin?” Sastro mengakrabkan diri setelah berkenalan.
“Hiya, Mas Sastro. Inih yang ke-17 dalam bulan ini. Biasa, kontrak. Kami dari Jakarta. Saya sendiri hanya ngebantu kalo lagi banyak pemasangan begini.”
“Lha, sehari-harinya ngapain je, Pak?” lanjut Sastro.
“Saya jualan kembang di Bekasi. Jahh… kembang juga lagi lesu, Mas. Biasa, pemain besar yang ngendalikan.”
“Ooow… bakul kembang.. Lha, kok bisa lesu? Pemain besar tuh sapa, Pak Ratmin?”
“Posisi kaya saya gini di tengah, Mas Sastro. Repot. Pemain besar tuh importir, biasanya yang ngambil orang Thailand. Dua tahun kemarin enak tuh, Mas. Untung satu tanaman minimal bisa limapuluh ribu. Sekarang nyari lima ribu saja susah, makanya kalo ada permintaan mbantu garapan lapangan begini ya berangkat aja ke mana aja. Kalau dulu, pas enak-enaknya, ada 10 ribu pot, mereka minta 12 ribu. Sekarang, ada 10 ribu, mereka minta 8 ribu dulu. Jadinya dua ribunya masih menuhin tempat kami sendiri. Sementara, petani-petani di Lembang, tempat biasanya saya ngambil taneman pada teriak..kok tidak ngambil-ngambil. Lha gimana, kami kesulitan ngebuang barang.”
“Repot juga Pak Ratmin, ya.. Meski saya indak paham tapi pengen tau lebih banyak dari VSAT sampe cerita taneman ituh.”
“Hiya, Mas. Sek ya… kami lanjut masang dulu. Nti kita ngobrol lagi kalo dah kelar.”
.:: gambar aglaonema dari sini ::.
Popularity: 21% [?]






No comments yet.