Bottom Line : Human Capital dan Tuntutan Nilai Tukarnya (Batalyon 751 Sentani dan Brimob Polda Sulawesi Selatan)

Bermula dari sebuah tulisan dinding seseorang di facebook, “…heran kenapa banyak satpam & satgas-satgas sipil di Jakarta yang lagaknya mirip anggota Militer (Sipil yg Militeris)…. tapi di Papua malah ada oknum-oknum militer yg unjuk rasa mirip warga sipil (Militer yg Sipilis)..,” lalu saya berpikir seharusnya tidak perlu terjadi aksi anarkhis demikian *siapayangmengharuskan?
*. Sejenak kemudian pikiran saya pun berubah, sah-sah saja wong setiap manusia, berangkat dari individu sampai kelompok, pasti memiliki keinginan. Setidaknya, salah satu apresiasi unsur kemanusiaan muncul di situ lepas dari benar ataupun salah cara mengaktualisasikannya, namun setidaknya, menurut saya, hendaknya tidak untuk diabaikan.
Kedua benturan pemikiran tersebut membuat saya tertarik untuk menelisik lebih jauh, lebih kepada pembelajaran saya pribadi dalam mempelajari kejadian tersebut. Untuk beberapa saat kemudian, pikiran saya terhenti pada rangkaian kata yang berbunyi Human Capital.
Dari pemahaman saya yang terbatas mengenai Human Capital, bahwa skill and knowledge sangat mempengaruhi kinerja produktif. Kalau dalam satu badan usaha yang jelas-jelas profit oriented, muara kinerja tersebut adalah economic value. Sedangkan bagi institusi nonprofit, yaitu TNI, saya analogkan bahwa dalam hal sebagai alat negara, tentu akan berujung pada services dan responsibility value dalam pelaksanaan tugas pokoknya.
Terkait dengan itu pula, seorang kawan lain berpendapat kalau kejadian Sentani terlalu sempit apabila ditinjau dengan batasan koridor dalam ranah Human Capital. Alasannya, berbicara Human Capital akan menyakup sistem pembinaan dan pemberdayaan SDM (TNI) terkait dengan keberhasilan pelaksanaan tupok TNI sebagai alat negara, dalam hal ini economic value dianalogkan dengan services dan responsibility value sebagai muara operasional sebuah nonprofit oriented institution. Simpulnya, kejadian Sentani adalah insiden yang terlalu kecil untuk dikaitkan dengan ranah sistem pembinaan dan pemberdayaan SDM (TNI).
Bagi saya, sekarang ini, satu atau dua orang saja anggota TNI adalah TNI, terlebih dengan semakin eksisnya pendapat media di kalangan masyarakat luas. Demikian juga, Human Capital menjadi koridor yang tetap korelatif untuk menjembatani dan menghubungkan insiden-insiden personal maupun kelompok kecil anggota TNI kepada pengkajian sistem pembinaan dan pemberdayaan SDM TNI secara terpadu.
Oleh karenanya, salah satu alternatif sudut pandang dalam mengambil nilai pembelajaran dari insiden Batalyon 751 Sentani dalam ranah Human Capital adalah terakumulasinya tuntutan nilai tukar yang tidak terpenuhi atas pertimbangan services dan responsibilities value yang dibebankan dan dilaksanakan oleh tataran anak buah.
Dalam posting ini saya tidak akan mengulas apa yang terjadi, bagaimana bisa terjadi, apa latar belakangnya, siapa yang benar ataupun salah. Kesimpulan pribadi saya hanyalah bahwa struktur komando dalam tubuh TNI tidak memungkinkan hal tersebut terjadi, namun kalau memang terjadi demikian merupakan dampak akumulasi tuntutan nilai tukar yang telah menjadi bom waktu dan meledak setelah detonatornya terpicu satu “event” duka. Bagaimanapun juga, baik bapak buah dan anak buah tetaplah manusia yang secara kodrati pastilah memiliki keinginan.
Saya hanya menggarisbawahi bahwa insiden “kecil” tersebut telah merangsang gairah pembelajaran saya tentang Human Capital. Selain itu, insiden tersebut tidak dapat dilewatkan begitu saja tanpa pengkajian dan penerapan tindak lanjut sistemik mengingat sebelum Sentani, didahului insiden Brimob Polda Sulawesi Selatan. Yang tidak diharapkan adalah kedua insiden tersebut dijadikan referensi yang mendorong insiden-insiden yang sangat tidak diinginkan namun sangat mungkin terjadi di kemudian hari ketika kaitan analogi Human Capital dan tuntutan nilai tukar tidak seimbang di lingkungan TNI. Dan saya pikir, hal tersebut bukan tanggung jawab TNI semata, melainkan juga negara yang menjadikan TNI sebagai alat pertahanannya.
Sejatinya saya masih perlu banyak belajar tentang Human Capital dan pembinaan serta pemberdayaan personel TNI itu sendiri. Postingan ini merupakan bagian dari pembelajaran tersebut. Berkenankah Anda berbagi ilmu tersebut?
inserted link :
updated PCMAV 2.0 Build 3 + clamAVnewest go get it!
inserted link :
CAMPAIGN “BE WISE ON facebook Indonesia“ go there…
inserted link :
campaign : TNI AU milik kita“ go there or you may stay here..
Popularity: 31% [?]




@ Pak Sawali, memang studi Human Capital ini menarik untuk dikaji Pak. Implementasinya yang bagaimana di TNI itulah yang saya pengen tahu lebih jauh.
@ BobEcaEco, terima kasih simpatinya, Mas Bob. Semoga hal tersebut menjadi perhatian para wakil rakyat dan penyelenggara negara kita. Judul posting yang unik keknya, Mas Bob. Hehe..meluncur ke situ ah..
Salah satu memanusiakan manusia adalah dengan saling memperhatikan kebutuhannya. Ketika lembaga terbesar negeri ini belum dirasakan bisa memenuhi itu, comot sana-sini, tuntut sana-sini intern TNI masih mungkin terjadi. Maaf kalaw hanya bisa bilang, kasihan person2 TNI, nilai tukar tuntutannya melebihi apa yang bisa ia banggakan bagi keluarganya. Salam kenal, Mas Dhoni.
BobEcaEco’s last blog post..Bukan Gelaran 4 : Mojok, Sarungan, Ngligo Dodo, Disentor Kipas Angin
barangkali memang sentuhan human capital dalam tubuh TNI masih terus dipupuk dan dikembangkan, mas donni. tak hanya berlaku buat dunia militer, di institusi mana pun pengembangan nilai berbasis kemanusiaan perlu terus dilakukan agar tak terjadi perilaku2 kekerasan yang bisa mengoyak nurani.
Pak Mardoto,
Terima kasih ampiran dan pencerahannya, Pak Mardoto, mudah-mudahan insiden demi insiden tersebut akan terus memberikan pembelajaran sekaligus kajian dan penerapan yang kongkrit ke depannya, dengan tetap memupuk loyalitas kepada organisasi yang memiliki tupok serta regulasi yang jelas.
Dalam hal insiden Sentani tersebut, ditilik dari sudut pandang atasan, kebijaksanaan apapun yang diambil setidaknya melalui proses refleksi terlebih dulu. Simplenya dengan memposisikan diri apabila atasan tersebut menjadi seorang bawahan dengan kebijaksanaan pimpinan seperti yang hendak ditetapkan. Maka saya pikir, dengan begitu, seandainya terdapat akumulasi ketidakpuasan bawahan, yang memiliki beban tugas dan tanggung jawab pelaksanaan yang berat bahkan beresiko, terhadap apapun kebijaksanaan pimpinan, akan lebih mudah terakomodir dan dapat dikomunikasikan dengan baik. Dengan harapan, tentunya, setelah dapat dikomunikasikan dengan baik akan dapat dirumuskan solusi terbaik pula.
Namun demikian, apabila pembelajaran insiden tersebut saya coba tarik ke depan, masih banyak pertanyaan dalam hati saya, sejauh mana parameter-parameter teori Human Capital dapat dikorelasikan dalam ranah pembinaan dan pemberdayaan personel TNI, selain tentunya tanda tanya yang masih banyak pula tentang teori dan praktek Human Capital itu sendiri.
Sekali lagi, terima kasih Pak Mardoto. Semoga selanjutnya saya pun dapat mengikuti jejak Bapak, mengaktualisasikan diri di lingkungan pendidikan, berinteraksi langsung dengan generasi baru sampai akhir masa tugas saya, sedemikian cita-cita di akhir tingkat III sampai dengan saat ini, anyway.
Salam
1. Bagus cara melihat berdasarkan HUMAN CAPITAL. Ini sudut pandang yang akademis & umum, mudah dicerna.
2. Sehari setelah kejadian itu saya memberi pengarahan di apelan anggota AAU. Intinya, saya melihat positioning kedua belah pihak dan landasan Prajurit TNI yaitu Sapta Marga.
3. Sebagai bawahan & atasan semua terikat oleh marga-marga yang ada di Sapta Marga. Bawahan terikat pada marga loyalitas: patuh & taat pada atasan. Atasan juga terikat pada marga kejujuran, kebenaran & keadilan. Kalau ini semua dilanggar jelas salah besar!
4. Dari sisi referensi, di dalam organisasi militer manapun tidak ada demokrasi sepenuhnya, dan tentu tidak membuka ruang untuk demonstrasi. Bahkan kalau itu menyangkut misi & tujuan organisasi, commander takes all, artinya komandan bertanggungjawab semua kebijakan & keputusannya, sesuai ketentuan yang berlaku. Anggota harus patuh & taat. Sekali lagi ini basis mission, tetapi tidak berrti hak anggota boleh dihilangkan/dikurangi, apalagi yg menyangkut kesejahteraan.
5. Ok, sementara begitu.
mardoto’s last blog post..Daftar 100 Tokoh paling berpengaruh di dunia Tahun 2009