| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Black Community vs White Community

web hosting indonesia

  • Kalo ngikutin update-an PCMAV yang gak sampai sebulan sekali ngeluarin Build baru, hebat euy! Sedikitnya, mampir aja di halaman ini, dalam sebulan aja dah dua kali update (kalo sesuai upload-an saya lho), dari PCMAV Build 2 sampai ke PCMAV Build 4, belum clamAV-nya nyang daily. Itu anti virusnya, gimana virusnya, kan? Hehe… bukan dari teknologi IT-nya. Cara pandang saya, ada 1000 pak hansip, 1001 bahkan lebih pencuri siap lari lebih kencang. Dunia ya gitu ±nya. Tinggal pilih aja, kita mau jadi yang mana? Sejelek-jeleknya, mau jadi mantan mucikari atau mau jadi mantan kyai? Dari satu pilihan individu, ngumpul jadi pilihan komunitas, lama-lama juga bisa ditarik kesimpulan oleh siapapun, kumpulan pilihan yang mana yang akan mewarnai nasib negeri ini. Dan kalo dah berbicara dua kumpulan “adu kekuatan”, tidak ada kamus satu dilawan satu, melainkan jejaring dilawan jejaring, gandengan dilawan gandengan, kereta dilawan kereta. We’ll finally find the color of this country out. Bagaimana? …

Weh.. 14.15, ke rumah Asuh Topik dulu ah… ada undangan nyembelih menthog je, rica-rica super puedhezzz.. punteen julu’, see u after “rica-rica”.

:D

Rica-rica joss tenan!

  • Satu contoh pengumuman pasca pengadaan CPNS ada di sini. Hampir dapat dipastikan di setiap departemen maupun BUMN ataupun instansi-instansi sejenis juga mengantisipasi hal-hal yang termaktub dalam pengumuman tersebut, agar para tenaga baru pengawak departemen/ instansi tidak mengindahkan request dana sehubungan dengan pengadaan tenaga kerja maupun penempatannya. Belum lagi kalau diulas mengenai such a nepotism, could be everywhere. Pertanyaannya adalah mengapa pengumuman tersebut dibuat, setiap kali pengadaan dan penempatan lagi. Tak ada bara tiada api. Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat semacam ketidakseimbangan antara ketersediaan lapangan kerja dan kebutuhan masyarakat untuk bekerja. Konsekuensinya adalah keharusan berkompetisi, namun sayangnya kompetisi menjadi tidak sehat dan akhirnya menjelma menjadi budaya. So ironic! Bagi para pelamar kerja, sedemikian rendahkah kualitas kita sehingga standar kompetitif tidak lagi menjadi tolok ukur kemudian perpedoman pada kemampuan memanjakan oknum pengadaan tenaga kerja? Tidak ada tempe, tentu tidak akan ada kucing di atas meja makan. Pengawasan? Haruskah ketertiban lahir di bawah bayang-bayang pengawasan? Bukankah pengawasan lebih ditujukan pada pengevaluasian standar kualitas, quota, dan bukan pada hal-hal yang menyebabkan perhatian crew pegawasan tersita dan kurang memperhatikan hal-hal yang lebih valuable sebagai feedback?
  • Tidak lama lagi para siswa setingkat SMU, SMP, dan SD akan melaksanakan Ujian Nasional 2009. Siapkah? Pertanyaan tersebut tidak ditujukan pada para peserta ujian karena mau tidak mau para siswa memang harus bersiap-siap. Pertanyaan tersebut lebih ditujukan kepada jajaran pelaksana dari pusat samapi ke daerah, termasuk di dalamnya mekanisme pengawasan pelaksanaan di lapangan. Menurut saya, hakikat pelaksanaan Ujian Nasional tidak semata pada hasil akhir dimana masing-masing individu peserta berkompetisi, bahkan tidak juga pada tingkat pencapaian ukuran pembanding standarisasi mutu pendidikan rata-rata kumulatif yang dicapai antardaerah (standar keompetensi pendidikan). Seperti halnya aksioma bahwa mengedepankan stadarisasi kompetensi pendidikan dalam tataran hasil adalah sebuah kemustahilan tanpa proses pendidikan yang distandarkan terlebih dahulu. Kalau saya simpulkan dalam sebuah pertanyaan akan menjadi begini, selama proses pendidikan formal belum dapat dikedepankan? Sudahkah pelaksanaan proses pendidikan terukur dalam suatu standarisasi tertentu? Pertanyaan tersebut muncul dikarenakan suatu fenomena sosial yang berkembang bahwa : ¹) Ujian Nasional menjadi “momok” tidak hanya bagi siswa, orang tua siswa, bahkan jajaran Departemen Pendidikan di daerah maupun Pemerintah Daerah sendiri, terkait dengan hasil yang akan dicapai apakah mampu memberikan citra positif ataukah sebaliknya. ²) Distribusi soal mengalami kendala tertentu, kebocoran soal sebelum waktu pelaksanaan, perbedaan hasil antardaerah yang signifikan,dll. Dan pada saat pencapaian proses pelaksanaan pendidikan dibicarakan, maka parameter yang harus dilibatkan sedemikian beragam dan tidak mudah, contohnya mengenai kesejahteraan guru, kesiapan dan kesediaan guru untuk ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia, otonomi daerah yang berkaitan dengan ragam kinerja daerah soal pendidikan, dan hal-hal lain yang menunjukkan keragaman. Lalu bagaimana bisa kita mengejar suatu hasil optimal yang standar, sedangkan prosesnya sendiri belum bisa optimal standar dalam menyikapi parameter yang beragam? Sebuah fenomena yang menggelitik.
  • Menyoal requestnya Jeng Wennyaulia di posting sebelumnya, soal politik gimana? Berkait dengan Pemilu, kalo menilik arti berpolitik itu sendiri secara singkat adalah penerapan seni (cara) upaya pencapaian tujuan. Lha kalo warna politik yang berkembang di negeri ini ya warna-warni juga seni (cara) pencapaian tujuan para praktikan politik di negeri ini juga’. Lha saya sendiri yang sangat awam dengan dunia yang satu ini hanya bisa melihat dan coba mengukur sebatas kemampuan cara pandang saya, sejauh mana saudara-saudara kita tersebut mencanangkan tujuannya. Bagaimana cara saya mengukurnya? Kembali lagi sebatas, sebatas perilaku politiknya. Dari perilaku politik tercermin sejauh mana tujuan yang ingin dicapai. Singkatnya, akan muncul sebuah keraguan terhadap suatu tujuan yang dimiliki seorang praktikan politik manakala perilakunya tidak santun, provokatif, menunjukkan kelebihan diiringi pendiskreditan pihak lain, saling merendahkan, terlebih yang berbau money politic, serta perilaku-perilaku lain yang dapat mencerminkan kualitas pribadi yang kurang positif. Dapatkah seseorang yang kualitas pribadinya diwarnai hal-hal tadi, lantas ia dapat mendedikasikan dirinya bagi kepentingan masyarakat, bagi tujuan yang lebih besar, dan bukan pada tujuan sempit seputar lingkungan terdekatnya? Mampukah seseorang dengan perilaku politik tersebut berpikir dan mengambil keputusan yang paling tepat untuk pencapaian tujuan yang paling ideal?

Ketika satu waktu di meja kantin tergeletak berjejeran box rokok Djarum Black Mas Rahman ama Marlboro Light Mas Danang, muncul dalam ngen-ngen warna hitam dan putih itu yang selalu ambil bagian di manapun di negeri ini, dalam aktivitas yang beragam.

Soal itu, pernah satu ketika ngobrol dengan seorang wanita cantik yang mengaku menyandang sebutan psikiater, dia bilang negeri ini kadhung bobrok dan gak lama lagi akan collapse. Spontan saya bilang,

“Ayo kita bertaruh, Mbak. Mudah-mudahan sama-sama diberi umur panjang, dalam 20 tahun ke depan Indonesia akan jadi negara maju, bersih, dan disegani masyarakat global termasuk masyarakatnya sendiri.”

…sebuah tantangan gregeten. Yang saya pribadi gadhang-gadhang adalah eksistensi  sebuah jaringan, sebut saja jaringan kebangsaan. Sebuah jaringan yang merupakan hubungan komunikasi dan komitmen yang berkelanjutan antarindividu, masing-masing memiliki visi yang sama untuk kemajuan Indonesia. Siapapun dia, apapun latar belakang status sosialnya, apapun latar belakang profesinya, apapun latar belakang agamanya, apapun latar belakang background pendidikannya, apapun latar belakang komunitasnya, apapun latar belakang politiknya, bagaimanapun latar belakang ekonominya, bagaimanapun latar belakang politiknya, segala ragam latar belakang, namun yang dikemas adalah kesamaan visinya, terhubung menjadi satu jaringan komunikasi dan komitmen untuk kemajuan bangsa. Masing-masing individu beraktivitas optimal di tiap-tiap lingkungannya, mengamati pula siapa-siapa di sekitarnya yang memiliki visi serupa, menularkan visi dan menggalang perluasan jaringan internal ataupun lintas lingkungannya. Hingga pada suatu ketika satu individu diantara mereka, siapapun dia dengan latar belakangnya, yang mampu maju sebagai pemimpin, yang ada hanyalah dukungan dari semua anggota jaringan karena semua yakin bahwa individu yang didukungnya akan mengedepankan pencapaian kemajuan Indonesia. Lalu jaringan itu akan menggerakkan roda kehidupan bernegara secara dinamis menuju satu titik bernama kemajuan.

Dalam proses sebelum ataupun sesudahnya, ketika dijumpai individu yang tidak satu visi, tentu didepak dari lingkaran jaringan, bahkan bagi yang sebelumnya sudah ada dalam jaringan tersebut.

Permasalahan internal negeri ini hanya ada pada dua box, Djarum Black dan Marlboro Light itu. Siapa yang eksis pada akhirnya, apakah white community ataukah black community?

Pertanyaan terakhir adalah, mau bagaimana masing-masing kita memposisikan diri dalam lingkungan kita? Butuh keberanian ekstra…tapi memang harus melakukan penentuan pilihan.

———–

…posting ini sambungannya yang ini, jadinya…

Quantum Leaps : Sukhoi TNI AU, Ponari, Olimpiade Kuark 2009, Penerimaan CPNS, Virus | PCMAV, Ujian Nasional 2009, Trend Kekerasan, Djarum Black, dll. Tuntutan Semangat Plus Kerja Paralel Menentukan White or Black Community (II)

*lintasiklan* Kalo ada yang mau download PCMAV Build 4 silakan ke sini atau kalo ada yang masih penasaran mo’ ke Ponari Jombang silakan meluncur ke sana:D

inserted link :
updated PCMAV 2.0 Build 3 + clamAVnewest go get it!

inserted link :
CAMPAIGN “BE WISE ON facebook Indonesia go there…

Popularity: 14% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

  • Trackback are closed
  • Comments (1)
  1. semoga komunitas dan kerumunan yang ada di negeri ini putih semuanya, mas dhoni, ndak ada kerumunan yang pilih jalur hitam, hehehe … bisa membuat repot banyak pihak.

    sawali tuhusetya’s last blog post..Prostitusi Pelajar dan Beban Sosial Bangsa

    Pak Sawali,
    Amiin, Pak… meski sulit memang. Amiiiin amiiin amiiiiin!!

Comment are closed.