| Dhoni Setiawan | Pertahanan dan Alutsista | TNI AU | Human Capital | Facebook Indonesia |

Apalah Arti Sebuah Kampung?

web hosting indonesia

Dhodot anak kampung, serdadu kampung!!

Halah… kampungan loe!

Dasar gadis kampung!

… dan lain-lain yang acap kali kita dengar beratribut kampung, apalagi kalau yang kita dengar tersebut ekual dituliskan berakhiran dengan tanda seru… sudahlah… apalah arti sebutan kampung.

Tidak.. tidak.. saya percaya, meski kampung kecil terpencil sekalipun, besar artinya. Lingkungan sosial terkecilpun, sekalipun hanya dua-tiga rumah atau kepala keluarga di kaki bukit, di tepi hutan, tidak bisa disepelekan.

***

Terus terang, saat ini saya pegang dua KTP. Satu KTP Mataram, satu lagi KTP Makassar. Bagaimana tidak buat KTP lagi kalau hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan administrasi legal selalu diminta KTP setempat. Padahal konon pernah dengar KTP Nasional, itu yang seperti apa dan fungsinya bagaimana, sampai sekarang saya sendiri masih blank. Pastinya tidak hanya saya, barangkali Anda yang sedang membaca ini pun punya lebih dari satu identitas kependudukan.

Database kependudukan negeri ini memang masih belum bisa terukur akurasinya. Ketika database tidak terpedulikan akurasinya, menjadi cerminan keteledoran di setiap lini aparat kependudukan, sebelum disoroti bagaimana masyarakatnya sendiri. Jadi ya tidak ironis lah dengan melihat kenyataan bahwa saya pun bagian dari masyarakat, wong aparat kependudukannya saja abis bangun tidur lagi *Mbah Surip Mode : ON*

Akhirnya, terjadilah satu dampak hebat dari ketidakpedulian aparat kependudukan, secara struktural maupun fungsional, maupun masyarakat secara umum di lingkungan tertentu. Tentu masih hangat dalam ingatan tentang pelarian Noordin M. Top dan rombongan. Kampung, lingkungan masyarakat yang terdekat, namun sering lenyap begitu saja dari rengkuh kepedulian masyarakatnya sendiri. Ironisnya, beberapa malah di kampung yang padat penduduknya, di mana aktivitas komplotan Sang Buron sangat mungkin berbaur dengan kegiatan masyarakat. Jarak dan waktu menjadi titik lemah di saat dua hal itu seharusnya bisa menjadi ‘tameng’ masyarakat beserta aparatnya, di lingkungan padat.

***

Walaupun hal itu menjadi sebagian latar belakang saja, namun perlu ada langkah alternatif sekecil apapun untuk menyikapinya secara positif. Yang jelas tidak sebanding besarnya tujuan dengan latar belakang yang diuraikan sebelumnya, namun  hanya, lebih kepada kesinambungan kerukunan dan keguyuban yang telah terbina sebelumnya di sebuah kampung kecil, Kanoman nama kampungnya.

Kanoman, sebuah kampung di pinggir kota Jogja, masuk di wilayah kabupaten Sleman., berangkat dari tujuan kesinambungan keguyuban tadi, atas rembug warga  onliners Kanoman (Kanomers), terbentuklah kampung maya Kanoman. Awalnya, kampung maya Kanoman ini adalah ide mendadak, terinspirasi dari aktifitas online di facebook yang rame,  ya.. sekedar mewadahi dalam satu kemasan saja, sekaligus menghimpun kekeluargaan yang sudah terpisahkan jarak dan waktu, supaya dapat tetap guyub di satu kantung maya.

kanomers

Kampung maya ini masih terbilang baru. Isinya juga lebih tergantung pada kanomers. Wahana ini lebuih ditujukan untuk guyub-guyuban, tukar informasi maneko warno, pemberitahuan kegiatan ataupun berita keluarga,  ajang tulis-menulis dan membiasakan blogging bagi kanomers yang baru mulai dan ingin mendalami, juga diselipkan halaman forum. Khusus untuk forumnya, sampai sekarang masih kosong :) *isin mode : ON*… ya sembari pengen liat geliatnya kanomers juga.

Dalam perkembangannya ke depan, diharapkan muncul kampung maya-kampung maya lainnya, sehingga sesrawungan antar kampung lintas tertitori bisa dimaksimalkan. Barangkali, dengan begitu, dampak-dampak semacam yang diulas di bagian awal soal sekuritas dan kepedulian antarwarga bisa ditingkatkan. Mari kita liat kondisi perkampungan/ perumahan elit, dimana tatap muka antar tetangga dalam keseharian sangat jarang terjadi, dengan kondisi tersebut, keberadaan kampung maya/ perumahan maya serupa kampung maya Kanoman tersebut mungkin bisa menjadi alternatif geguyuban, pergaulan warga dalam satu tertitori kampung ataupun perumahan.

Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi satu wacana positif untuk dikembangkan bersama.

Popularity: 29% [?]


Hi all..  Dhoni Setiawan (dhodotes) was born in Jogja, 31 years ago. He graduated from an Elementary and Junior High School in Jogja, then he passed his graduation of Senior High School in Magelang, Taruna Nusantara Senior High School. After graduation of Taruna Nusantara, he joined the programme of Indonesian Air Force (IAF) in an Academy, Indonesian Air Force Academy, graduated in 2000. By now, He's on duty in Makassar. He has such a simple goal of life..being fluently in English, not only speaking, listening, but also writing. He has ever had a bad story of learning English, fear and being shy (sickness). In one another time after beating his sickness, he realized that English is very important for his self-improvement, but there wasn't any external supports to learn it in a best way that days. His only way to learn English was by following school lessons and daily practice. There was no money that day! After having a job on becoming member of IAF, he still tried to have some chances to follow its programme which is called KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). He had no stories on it, anyway. Finally, he decided to make his own steps with no any such of programmes, just like what he did before. Till now, he follows his own rules of "learning by doing" system of English. He calls it as Madness on English!! Possibly, the next question is why.. Why? He has such a simple answer.. because He has a daughter who will need somebody else to be asked to about many random stuffs of English. And he want to be the first one to be asked to.


Related Posts

  1. No comments yet.

  1. No trackbacks yet.

CommentLuv Enabled

Spam Protection by WP-SpamFree