Lima Menit Saja?
Laki-laki itu sudah 2 jam duduk di undakan teras belakang rumah, rumah yang biasa disebut oleh komunitas di lingkungan itu sebagai Mess Awan Jingga. Sunyi, bahkan jangkrik pun enggan bernyanyi. Terang saja enggan bernyanyi, apalagi membentuk grup orkestra bersama dua-tiga ekor katak, karena mereka lebih baik bersembunyi, mencari perlindungan. Derasnya hujan mengguyur bagian pulau kecil itu, paling deras barangkali pada koordinat di mana Awan Jingga berada, sudah berlangsung setidaknya satu jam terakhir. Sempurnalah bagi laki-laki itu, dingin, lewat tengah malam, hujan deras, listrik dipadamkan pula oleh PLN Biak. Benar-benar sempurna. Namun, semua itu tidak membuatnya beranjak. Menggeser duduk bersilanya saja tidak. Entah adonan lem jenis apa ataukah campuran semen macam apa yang begitu mengeratkan pantatnya dengan undakan teras itu. Apapun itu kondisinya, beberapa lipatan kulit di dahinya membentuk semacam relief hancur dinding batu di Candi Boko, Jogja. Jemari kiri kanannya pun saling merajut sedari hujan belum tercurah tadi.
“Lima menit saja? Ndak beres!” teriak batinnya.
Popularity: 13% [?]








